Recents in Beach

Climb Farther than the Eye Can See


Dunia modern yang perkembangannya bersifat diskontinu, patah-patah, menuntut kita untuk menjalani proses pembaruan diri terus menerus. Dalam konteks itu, visi dan konsistensi sikap maupun konsistensi aksi akan menjadi penentu keberhasilan kita.

Merefleksikan hal itu, saya ingat Ruben Gonzalez. Orang ini menjadi atlet Olimpiade Luge pada umur yang oleh semua profesional dalam olah raga itu dianggap sudah terlalu tua. Orang lain yang mau serius dalam olahraga seluncur es itu biasanya mulai berlatih pada umur sepuluh tahun. Dia baru menggeluti cabang itu pada umur dua puluh satu tahun. Dia ditertawakan oleh calon pelatihnya ketika pertama kali menyampaikan keinginannya. Tapi alam semesta selalu memihak pada orang yang memang punya tekad besar dan berani membayar harganya. Konsistensi aksi dialah yang ternyata membuktikan bahwa dia memang bukan orang sembarangan. Kebiasaan baru dan konsistensi sikap dan aksinya membentuk dirinya. Keberhasilannya di tiga olimpiade menegaskan konstitusi dirinya yang hebat, dan itulah yang memberi dia bekal istimewa untuk menjadi salah satu motivational speaker top dunia. Kita bisa belajar banyak dari bukunnya, Courage to Succeed, Menjadikan Hidup Sebagai Mahakarya.

Saya juga mengingat pembicara publik dan motivator lain. Namanya Erik Weihenmayer. Ia lahir tahun 1968 dengan penyakit mata yang disebut retinoschisis, yang membuatnya buta total pada umur 13 tahun. Coba bayangkan, Anda yang sekarang bisa melihat indahnya dunia tiba-tiba menjadi buta. Apa yang akan terjadi pada Anda? Banyak orang barangkali akan patah menghadapi tragika seperti itu. Tetapi, tidak demikian Erik. Ia menerima kenyataan kebutaannya. Dan tidak hanya menerimanya, tetapi memanfaatkannya sebaik-baiknya justru untuk mewujudkan keunggulan dan keagungannya. Dia belajar keras, dan di luar kegiatan belajarnya, ia ikuti lari maraton. Ia ikuti lomba terjun payung. Ia ikuti lomba ski. Ia adalah pesepeda jarak jauh dan pendaki tebing, yang suka mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia.

Konon, 90% orang yang mencoba mendaki Mount Everest gagal di tengah jalan. Sebagiannya mati, sebagian cacat. Tapi, tidak demikian sarjana yang mendapat gelar master di Middle School Education dari Lesley College ini. Dialah orang buta pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di puncak Mount Everest, pada tanggal 25 Mei 2001. Tekad dan ketabahannya mengalahkan berbagai rintangan menuju pucak tertinggi di dunia itu.

Kumpulan pengalaman dan refleksinya itulah yang kini menjadikannya pembicara yang diburu orang. Ia memberi kita cermin, betapa diri kita ini sesungguhnya menyimpan kedahsyatan potensi. Kisah Erik adalah kisah orang yang terus mengembangkan wawasan dan “mimpi-mimpi yang hampir mustahil”. Kisahnya adalah tentang keberanian untuk mengejar mimpi-mimpi itu dengan tekad dan ketabahan.

Ya, dia bermimpi, tetapi mimpinya bukan mimpi orang malas yang lebih suka tidur di siang bolong daripada bekerja keras demi suatu kemuliaan cita-cita. Ia membayar mahal mimpinya dengan konsistensi sikap dan aksinya. Dia membentuk dirinya lewat pilihan-pilihan sikap dan tindakannya sehingga konstitusi dirinya siap untuk mencapai mimpinya.

Kisahnya bukan hanya tentang keuletan dan kesabaran, tetapi juga tentang kebesaran jiwa, tidak sekadar untuk menerima fakta keterbatasan, tetapi justru untuk mendaya-gunakannya demi mencapai keagungannya. Dan inilah yang kemudian begitu menginspirasi banyak orang: tragika hidupnya ia ubah menjadi “suatu keajaiban”.

Kalau ingin tahu ditil kisahnya, silakan Anda membaca bukunya: Touch the Top of the World: A Blind Man’s Journey to Climb Farther than the Eye Can See.

Coba perhatikan anak judul itu. Anak judul inilah yang ingin saya garisbawahi pada kesempatan ini: Climb Farther than the Eye Can See.

Secara metaforis anak judul itu memberi kita kesadaran bahwa kita bisa melihat lebih jauh dari fakta-fakta yang terpapar, bahkan hal yang belum ada. Pendek kata: punya visi dan insight, kalau kita mengembangkan imajinasi. Tetapi, visi dan insight tidak datang mengunjungi orang malas. Imajinasi perlu masukan dan pemupukan. Ujungnya, kita mesti bicara mengenai kebiasaan untuk mencari dan mengolah informasi… bahkan informasi yang terorganisasi.

Karena itu, climbing farther than the eye can see adalah urusan pembelajaran dan urusan mempraktekkan hasil pembelajaran itu. Itu urusan learning sekaligus unlearning, untuk kemudian relearning. Nah, kita kembali lagi ke tema sentral serial tulisan ini. Itulah urusan pembelajaran, sekaligus melepaskan diri dari kungkungan pengetahuan kita, untuk lebih peka terhadap penyingkapan fakta-fakta baru.

Paradoks ini luar biasa: kita harus terus belajar, sekaligus membebaskan diri dari kungkungan pengetahuan hasil pembelajaran, agar memiliki keluwesan dan kesiap-sediaan untuk menerima penyingkapan hal-hal yang belum diketahui. Keluwesan itu amat perlu, karena seringkali hasil penyingkapan baru itu lain sama sekali dengan pengetahuan yang sudah kita kuasai.

Ada dimensi lain yang perlu kita perhatikan kalau kita bicara mengenai climbing higher than the eye can see. Dimensi itu menyeruak dalam kesadaran saat merenungkan kata-kata Elizabeth Barrett Browning (1806 – 1861). Dia adalah seorang penyair Inggris pada era Victoria yang mencapai puncak keterannya lewat koleksi soneta cinta yang berjudul Sonnets from the Portuguese. Begini ucapannya: “Your reach should exceed your grasp, or what’s a Heaven for?” Jangkauanmu mesti melampaui rengkuhan tanganmu; kalau tidak demikian, lalu untuk apa ada Surga?

Secara metaforis surga di sini bisa mewakili apa saja yang kita idam-idamkan. Tetapi, sekali lagi, bukan keinginan dan impian yang menentukan pencapaiannya, melainkan konsistensi sikap dan aksi kita. Konsistensi sikap dan aksi inilah yang membentuk konstitusi diri kita apa adanya yang akan menentukan apakah kita pantas mendapatkan apa yang kita impikan.

Karena itu Brian Tracy, dalam bukunya yang amat inspiratif, Maximum Achievement, mengatakan, “You can never permanently achieve anything on the outside that you are not fully prepared on the inside.” Untuk banyak orang, ini bisa amat mengusik, karena secara tak langsung dia mengatakan bahwa segala capaian kita hanya merupakan cerminan dari “dunia dalam” kita, yaitu kebatinan kita, mentalitas kita, keahlian dan karakter kita.

Saya telah menyebut beberapa buku bermutu, yang akan dengan mudah mengangkat kita ke level yang lebih tinggi dan memungkinkan kita climb farther than the eye can see. Sebagai penutup, hanya perlu mengutip ucapan penyair dan pujangga Rusia, Joseph Alexandrovitch Brodsky, yang pernah berujar “There are worse crimes than burning books. One of them is not reading them.” Ada kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku-buku tersebut! Jangan sampai kita termasuk kelompok kriminal. [Pernah dimuat di Tribun Kaltim, Minggu 26 Juli 2009, Hlm. 1 + 7]